Custom Search

BATASAN-BATASAN AURAT



BATASAN-BATASAN AURAT


A.    Pengertian Aurat.
Pengertian aurat secara etimologi berarti yang kekurangan, atau dalam Bahasa Arab disebut dengan “an-nuqshan” {النقصان} [1]. Ada pula yang mengartikan dengan sesuatu yang dihinakan untuk dilihat walaupun dari jin dan malaikat.  Aurat dinamakan kepada tempat-tempat yang akan kita bahas, karena hina memperlihatkannya[2].

Sedangkan pengertian aurat menurut terminologi (istilah fiqh) yaitu sesuatu yang wajib ditutup dalam shalat. Oleh para ulama, sering kepada aurat juga mendefinisikannya dengan sesuatu yang haram dilihat[3].

Dari beberapa definisi diatas serta mengamati beberapa penjelasan dalam kitab-kitab kuning yang berada pada ruang lingkup Imam Syafi’i, dengan jelas dapat difahami bahwa aurat yang menjadi fokus pembahasan kita ialah batasan-batasan yang terdapat pada manusia yang wajib ditutup dan haram untuk dilihat, baik dalam shalat maupun diluar shalat.

B.     Hukum Melihat Aurat.
Pengertian aurat diatas, jelas sangat memudahkan kita untuk memahami bahwa pada dasarnya hukum melihat aurat adalah haram. Keadaan seperti ini sebelumnya telah  tergambar dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nur, yaitu :

قل للمؤمنين يغضّوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون 30. وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهنّ  ويحفظن فروجهنّ ولا يُبدِين زينتهنّ إلاّ ما ظهر منها وليضربن بخمرهنّ على جيوبهنّ ولايُبدين زينتهنّ إلا لبعولتهنّ أو أبائهنّ أوأباءبعولتهنّ أو أبنائهنّ أو أبناء بعولتهنّ أو إخوانهنّ أو بنى إخوانهنّ أو بنى أخواتهنّ أو نسائهنّ أو ما ملكت أيمانهنّ أو التابعين غير أولى الإرية من الرجال أو الطفل الذين لم يظهروا على عورات النساء ولا يضربن بأرجلهنّ ليُعلم ما يُخفين من زينتهنّ وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلّكم تفلحون31.  {سورة النور : 30, 31}

Artinya : Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang laki-laki yang beriman : “supaya menahan pandangan mata-mata mereka dan mereka pelihara kemaluannya (dari zina) karena demikian itu akan menyucikan hati-hati mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan apa yang mereka lakukan”. Katakanlah (wahai Muhammad) kepada wanita yang beriman : “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Dalam ayat diatas Allah SWT memulai dengan uraian mengenai memelihara mata kemudian mengarah kemaluan (zina), ini menggambarkan bahwa melalui pandangan mata dapat menimbulkan syahwat kemudian membawaki kepada perbuatan zina dan merupakan lahan subur bagi orang-orang untuk melakukan zina. Singkatnya, penglihatan merupakan awal mula terjerumus dalam maksiat (zina).[4] Padahal kita sama-sama maklum bahwa zina adalah termasuk salah satu dosa besar, bahkan berada pada urutan ketiga setelah syirik dan pembunuhan, jadi wajar saja bila hal-hal yang mengakibatkan zina seperti melihat aurat diharamkan pula oleh agama Islam.

Namun disisi lain melihat aurat dapat diklasifikasikan dalam beberapa bentuk yang akan memberikan konsekwensi hukum yang berbeda pula. Menurut mazhab As-Safi’iyyah hukum melihat aurat tidak terfokus kepada haram saja, akan tetapi juga meliputi kepada mubah, makruh dan sebagainya sesuai dengan undang-undang Ushul Fiqh. 

Syari’at Islam mengharamkan bagi seorang laki-laki walaupun sudah tua renta dengan sengaja melihat segala sesuatu dari bagian-bagian badan seorang wanita ajnabiyah (yang bukan istrinya dan bukan mahramnya) yang menurut tabi’at laki-laki normal akan menimbulkan syahwat kepadanya, baik wanita merdeka maupun budak meskipun pada wajah dan telapak tangan atau wanita tersebut jelek dan tua.[5] Bahkan melihat kepada wanita yang memakai cadar (yang terlihat hanya dua mata dan bagian yang tembus melalui celah-celah cadar) juga diharamkan, lebih-lebih wanita yang berparas jelita. Kedua masalah diatas tetap haram hukumnya kendatipun tidak membangkitkan syahwat pada saat sedang melihatnya atau tidak menimbulkan fitnah. Namun demikian tidak diharamkan (mubah) melihat aurat wanita melalui pantulan (bayangan) seumpama cermin bila tidak menimbulkan syahwat dan fitnah dengan sebab melihatnya.[6]

Lain halnya mahram, yang dibolehkan melihat selain auratnya sebagaimana yang akan kita uraiankan lebih jelas lagi mengenai batasan aurat wanita dan laki-laki, dewasa dan anak-anak, merdeka atau budak. Dibolehkan pula bagi laki-laki melihat budak wanita milik orang lain selain batasan antara pusar dan lutut tanpa diiringi dengan syahwat, bila membangkitkan syahwat haram pula hukumnya. Budak laki-laki terhadap majikannya yang wanita atau seseorang yang tidak lagi memiliki kemaluan (batang zakar) dan 2 peler terhadap wanita, akan sama seperti seseorang melihat wanita yang mahram.

Dibolehkan pula melihat seluruh badan anak-anak (laki-laki dan perempuan) kecuali kemaluan dan dhuburnya (anusnya). Melihat kemaluan dan dhuburnya tetap diharamkan, begitu juga, haram melihat tempat-tempat yang ditumbuhi bulu-bulu disekitar kemaluan kecuali disertai dengan adanya keperluan penting, seperti pada saat menyusui, mendidik oleh seumpama ibunya, membersihkan najis, mengolesi obat, dan sebagainya.

Sebaliknya seorang pria yang merencana ingin menikahi seorang wanita, baginya disunatkan untuk melihat wanita tersebut sebelum meminangnya, bahkan setelah meminang juga masih dibolehkan untuk melihat-lihatnya walaupun disertai dengan syahwat dan ditakuti menimbulkan fitnah, sekalipun tidak diizinkan. Yang dibolehkan disini hanya melihat saja, tidak termasuk menyentuh atau memegang walaupun terhadap orang buta atau ada keozoran untuk dapat melihat. Dibolehkan pula melakukannya berulang-ulang kali supaya jelas mengenai keadaan wanita tersebut. Dalam hal ini hanya dibolehkan melihat wajah dan telapak tangan saja, yang lain tidak, karena itu merupakan aurat, sedangkan wajah dan telapak tangan memang perlu untuk dilihat. Wajah memberi gambaran tentang kecantikan seseorang dan telapak tangan merupakan cermin keindahan badannya.

Seorang laki-laki boleh melihat badan laki-laki yang lain yang bukan anggota tubuh pada batasan antara pusar dan lutut, karena batasan tersebut merupakan aurat yang haram dilihat. Haram pula melihat laki-laki yang masih kanak-kanak serta memiliki wajah yang elok (amrad) dengan diiringi syahwat, yaitu memperoleh kenikmatan dengan cara melihatnya. Lihat wanita kepada sesama wanita seperti melihat oleh pria kepada sesama pria, dalam arti kata haram melihat antara pusar dan lutut, selain itu boleh.  Demikian pula hukumnya, yaitu haram bagi seorang wanita melihat kepada badan pria sebagaimana yang telah difatwakan oleh Imam Nawawi, yaitu :
قلت الأصح التحريم كهو أى كنظره إليها والله أعلم   [7]

Akan tetapi melihat tanpa disengaja tiada mengapa juga tidak akan disiksa hari qiyamat kelak.[8] Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al-Jabali :
قال : سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظرة الفجأة فأمرني أن أصرف بصرى { رواه مسلم وأحمد والترمذى }
Artinya : Berkatalah Jarir : Saya tanyai Rasulullah SAW tentang melihat yang tiada disengaja, maka Rasulullah memerintahkan supaya mengalihkan pandangan saya.

Jadi melihat secara tidak sengaja hanya pada pandangan pertama saja tanpa adanya hasrat apa-apa, sehingga tidak boleh bagi seseorang yang tidak sengaja melihat seorang wanita kemudian timbul perasaan suka serta ingin melihat kembali.[9]

Perlu kita ketahui pula, bahwa sanya melihat aurat sendiri tidak ada larangan. Hanya saja hukumnya makruh tanpa hajat. Hukum seperti ini berlaku ketika bukan sedang mengerjakan shalat. Adapun melihat aurat sendiri didalam shalat, misalnya melalui lubang kancing baju, atau karena kerah baju yang agak besar, dapat membatalkan shalat.[10]

Menurut fatwa Imam Nawawi, bahwa setiap yang haram dilihat maka haram untuk disentuh, karena sentuhan lebih tinggi tingkatannya dalam menimbulkan kenikmatan (syahwat/talazzuz). Kadang-kadang boleh jadi hal yang boleh dilihat tetapi haram untuk disentuh, seperti paha seorang pria (yang haram dilihat tanpa penghalang), boleh melihatnya bila ditutupi dengan kain sarung, namun menyentuhnya tetap tidak boleh. Sama juga seperti wajah ajnabiyah, dilihat boleh dipegang jangan (haram).

Dipihak lain dibolehkan melihat dan menyentuh untuk membetik, membekam dan mengobati, yang mana hal tersebut sudah sangat dibutuhkan (yang mencakupi dharurah). Hanya saja disyaratkan dalam hal ini supaya ada mahram atau suami yang ikut hadir pada saat itu, dan juga tidak diperdapatkan wanita yang mampu mengobatinya, pria untuk pria. Wanita non muslim (atau zimmi) tidak dibenarkan dalam hal ini pula selama ada wanita muslim. Perlu digaris bawahi bahwa Untuk kebutuhan yang ringan (أدنى حاجة) hanya dibolehkan sebatas telapak tangan dan wajah saja. Untuk keozoran yang berefek kepada dibolehkan bertayammum boleh melihat dan menyentuh pada batasan selain kemaluan dan dhubur (anus), sedangkan untuk kemaluan dan dhubur bila dalam keadaan dharurah.[11]

Dibolehkan pula melihat wanita ketika melakukan transaksi jual-beli dan transaksi-transaksi lainnya, untuk menjadi saksi walaupun ada yang lain sehingga seandainya wanita tersangka enggan memperlihatkan wajahnya, maka akan dibuka oleh wanita yang lain supaya orang yang menjadi saksi dapat melihat untuk mengenalnya dengan pasti. Melihat kemaluan ketika sedang menjadi saksi zina dibenarkan dalam agama islam, dan pula saksi wiladah (kelahiran). Begitu juga puting susu wanita tiada mengapa melihatnya untuk dijadikan saksi ridha’ (hubungan keluarga melalui menyusui).

Mengenai proses belajar mengajar, juga mendapat pembahasan istimewa masalah lihat-melihat antara murid dan guru. Untuk murid yang masih dikategorikan sebagai “amrad” boleh menatap kepadanya, sebagai mana seorang majikan laki-laki boleh melihat budak perempuan yang ingin dibelinya atau majikan wanita boleh melihat budak laki-laki. Demikian pula dibolehkan pula seorang pria mengajarkan wanita namun tidak boleh baginya melihat kepada wanita tersebut (yang bukan mahram) yang mana membawaki pengaruh yang cukup besar pula bagi seseorang yang menikahi perempuan dengan mahar akan mengajarkan istrinya selama beberapa waktu, kemudian bercerai sebelum habis waktu yang ditentukan, maka mantan suami dan istri yang tidak boleh lagi megajarkannya karena hal itu dianggap ozor.

Semua hal-hal yang dibolehkan pada uraian diatas, hanya sebatas keperluan saja, sedangkan bila telah selesai kembali pada hukum yang lain menurut keadaannya masing-masing.

Seorang suami boleh melihat apa saja bagian tubuh istrinya dan juga mengaulinya sesuka hatinya, hanya saja dikhususkan pada masalah melihat kemaluan dan dhubur (bagian luarnya dan dalam/bathinnya) istrinya hukumnya makruh disamping ada yang berpendapat bisa memberi dampak negatif, yaitu buta bagi yang melihatnya, dan ada yang mengatakan bukan yang melihat tetapi anaknya. Majikan pria juga boleh melihat kemaluan dan dhubur budak perempuannya dan menggaulinya seperti suami terhadap istrinya.[12]

C.    Hukum Membuka Aurat.
Sebuah fenomena yang tidak dapat kita pungkiri, keseimbangan merupakan hal yang sangat sakral dalam pelaksanaan sebuah hukum. Tidak adil rasanya bila yang mendapat tekanan hanya terhadap yang melihat saja, tapi bagaimana dengan yang seenaknya saja membuka tanpa memperhatikan upaya orang lain dalam memelihara syari’at. Jelas islam telah memperlihatkan bagi kita suatu keseimbangan dan keadilan dalam hal tersebut.

Islam, disamping membuat penekanan terhadap orang yang melihat aurat, juga mengiringi suatu ketentuan yang saling terkait bagi pembuka aurat, yaitu haram selama tidak adanya kemudharatan yang ditimbulkan atau selama tidak adanya suatu kebutuhan yang mesti dilakukan.

Seseorang wajib menutup auratnya dengan benda padat yang dapat menghalangi pandangan orang lain yang masih normal untuk melihat warna kulitnya walaupun dengan tanah sekalipun. Belum dikategorikan menutup aurat dengan menggunakan benda padat yang tidak dapat menghalangi penglihatan orang lain seperti kaca, plastik transparan, kain yang sangat tipis, kain tebal yang jarang tenunannya, dan sebagainya, demikian pula halnya benda-benda yang mampu mengubah warna kulit tetapi bukan benda padat, misalnya cat, daun pacar, gincu, dan lainnya. Untuk melengkapi persyaratan sah shalat, islam membolehkan seseorang memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk badan dari luar tanpa mengingkari bahwa hukumnya “makruh” bagi wanita dan “khilaf aula” bagi laki-laki.[13]

Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menutup aurat karena sama sekali tidak mempunyai sesuatu pun yang dapat menutup auratnya oleh islam memadai dengan apa adanya untuk pelaksanaan shalat, bahkan berusaha untuk mendapatkannya dengan cara mengambil milik orang lain tanpa sepengetahuan empunyanya hukumnya haram. Ini boleh saja terjadi ketika seseorang hanya memiliki satu penutup aurat yang bernajis, tentu saja dalam shalat tidak dibenarkan memakai pakaian yang bernajis, oleh karena itu sah shalatnya tanpa menutup aurat dengan pakaian tersebut, akan tetapi bila diluar shalat wajib menutupnya walaupun dengan pakaian yang bernajis atau sutra. Disisi lain islam membolehkan pula untuk membuka aurat karena ada maksud tertentu, bila terasing dari orang lain kecuali kemaluan dan dhubur untuk laki-laki dan batasan antara pusar dan lutut bagi wanita.[14]

1.      Wanita Memamerkan Perhiasan Terhadap Orang Lain.
Mengenai hal ini dalam ayat diatas juga telah diuraikan mengenai bagaimana hukum terhadap seorang wanita yang memamerkan perhiasannya, yaitu kalimat :
 ( ولايبدين زينتهن ) yang menunjukkan bahwa hukumnya haram bagi seorang wanita memperlihatkan perhiasannya terhadap ajnabi (yang bukan mahram dan suami), karena ditakuti menimbulkan fitnah kecuali bagi orang-orang yang telah disebutkan didalam ayat diatas, yaitu :

-  Suami, dibolehkan terhadap suami untuk melihat seluruh tubuh istrinya serta boleh menggauli istrinya dengan cara apapun yang dihalalkan dalam agama islam.
-  Bapak yang termasuk juga kakek, baik kakek melalui hubungan darah dengan bapak maupun yang berhubungan darah dengan ibu.
- Bapak mertua
-  Anak-anaknya sendiri, anak suaminya, yang juga termasuk didalamnya cucu-cucunya.
-  Saudara laki-laki, baik saudara kandung atau saudara sebapak maupun saudara seibu.
-  Keponakan
-  Paman sedarah dengan bapak, paman sedarah dengan ibu dan seluruh mahram menyusui walaupun didalam ayat tidak disinggung tentang mereka, karena hukum yang demikian telah disepakati oleh ulama fiqah (fuqaha’)[15]

2.      Wanita Yang Merdeka Membuka Aurat Kepada Budak Laki-lakinya.
Berdasarkan mazhab Asy-syafi’iyah, seorang wanita yang memiliki budak pria, boleh memperlihatkan kepadanya pada batasan selain antara pusar dan lutut, dimana budak dalam masalah ini dihukumkan sama dengan mahram wanita tersebut. Hal ini dapat difahami dari uraian yang menyatakan bahwa boleh bagi budak laki-laki untuk melihat aurat majikannya yang perempuan selain batasan diantara pusar dan lutut.[16]

3.      Apakah Suara Wanita Merupakan Auratnya?
Sering kita jumpai kontrofersial dalam fatwa-fatwa para ulama fiqh tentang suara wanita dewasa ini. Sebelumnya hal ini juga telah lebih awal dikaji oleh para ulama-ulama dan mujtahid-mujtahid dalam memposisikan suara wanita menurut syari’at islam. Ada yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat dan ada juga yang berpendapat bukan.
Menurut mazhab Imam Syafi’i suara wanita bukan aurat. Oleh karena itu dibolehkan (mubah) mendengarkan suara wanita selama tidak ditakuti menimbulkan fitnah atau bertujuan untuk mndapat kenikmatan dengan suara tersebut. Apabila hal ini kemungkinan besar ada, maka haram mendengar suara wanita, walau suara wanita yang sedang membaca Al-Qur’an sekalipun.
Wanita yang ditegur atau dipanggil oleh seseorang tidak boleh menyahut dengan suara merdu, tetapi dianjurkan menyahut sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.

 
  
 D.    Batasan – Batasan Aurat.

1.      Aurat Laki-Laki.
Aurat laki-laki baik orang yang baligh (orang yang berumur 15 tahun atau 12 tahun yang pernah bermimpi yang dapat mengeluarkan mani) maupun belum baligh (ash-shabiy) didalam shalat berkisar pada batasan antara pusar dan lutut sekalipun keadaannya sunyi dari orang-orang dan suasana gelap, maka haram terhadap seorang laki-laki membukanya. Demikan pula bila dihadapan mahram dan sesama laki-laki. Sedangkan aurat laki-laki yang wajib ditutup dari pandangan wanita ajnabiyah adalah seluruh tubuhnya, termasuk juga wajah dan telapak tangan.[17]

Kondisi seperti ini sama juga apabila laki-laki tersebut adalah mahram si wanita, misalnya bapak, adik kandung yang laki-laki, abang kandung, paman yang memiliki hubungan darah dengan bapak dan paman yang mempunyai hubungan darah dengan ibu, maka auratnya tetap pada batasan antara pusar dan lutut. Begitu juga aurat laki-laki yang bukan mahram pada pendapat yang kuat. Namun pun demikian, seandainya laki-laki tersebut adalah suaminya, maka sekujur tubuhnya bukan aurat. Sah-sah saja terhadap sang istri untuk melihat apa saja yang terdapat pada tubuh suaminya.[18]

2.      Aurat Wanita
Aurat wanita, anak-anak (belum baligh) maupun dewasa (baligh) didalam shalat, yaitu seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan (bahagian atas dan bawah telapak tangan). Batasan ini hanya berlaku didalam shalat saja, sedangkan diluar shalat aurat wanita akan berbeda menurut suasananya masing-masing yang kemudian diklasifikasikan menjadi empat macam sebagaimana dalam paragraph berikut ini.[19]

Dihadapan pria ajnabi (bukan mahram atau suami) auratnya adalah seluruh badan, termasuk juga telapak tangan dan wajah walaupun tidak menimbulkan fitnah.[20] Bila berada diantara mahramnya atau dalam suasana terasing dari orang lain, maka aurat wanita sama seperti aurat laki-laki, yaitu antara pusar dan lutut. Aurat yang demikian juga merupakan aurat wanita dengan sesama wanita muslim lainnya. Namun, dihadapan wanita non muslim yaitu semua yang tidak kelihatan ketika sedang bekerja.[21]

Intinya seluruh tubuh wanita merupakan aurat yang haram untuk dilihat oleh laki-laki yang bukan suaminya dan bukan mahramnya.[22]

  1. Aurat Khunsa (orang yang memiliki dua kelamin).
Khunsa ialah manusia biasa yang diciptakan oleh Allah SWT dengan dua alat kelamin yang menurut pengkajian ulama-ulama fiqh dibagi menjadi dua jenis, antara lain disebut dengan :

-  Khunsa Musykil, yaitu jenis khunsa yang mempunyai dua kelamin dalam waktu yang sama.
-  Khunsa Wadhih, adalah jenis khunsa yang memiliki dua kelamin, namun tidak dalam waktu yang sama akan tetapi secara bergantian (sewaktu-waktu berkelamin pria dan diwaktu yang lain berubah menjadi kelamin wanita)

Mengenai khunsa wadhih akan mudah difahami bahwa ketika berkelamin pria akan sama hukumnya dengan pria pula, begitu juga sebaliknya.

Khunsa musykil para ulama menghukum sama seperti wanita yang merdeka karena “ihtiyath”, yaitu mengambil sebuah hukum yang lebih pasti dan yakin. Maka segala ketentuan tentang aurat khunsa berlaku sama persis seperti pada wanita merdeka.[23]

secara tidak langsung akan menjadi proses dan seleksi alami bagi manusia yang semuanya mengharapkan sebuah kesuksesan atau keunggulan dari suatu proses. Keunggulan yang diharuskan tersebut diatas juga menjadi wajib dimiliki oleh ummat Islam, ini menjadi


[1] Mughnil Muhtaaj Ilaa Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaaj, Jilid 1, Hal 256
[2] Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Jalaluddin Al-Mahalli (bairut), Jilid 3, Hal 200.
[3] Mughnil Muhtaaj Ilaa Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaaj, Jilid 1, Hal 256
[4]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 148.
[5]  I’anatuth Thalibin, Jilid 3, hal 258.
[6]  I’anatuth Thalibin, Jilid 3, hal 259.
[7]  Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Jalaluddin Al-Mahalli (bairut), Jilid 3, Hal 208.
[8]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 151.
[9]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 152.
[10]  I’anatuth Thalibin, Jilid 1, hal 114.
[11]  Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Jalaluddin Al-Mahalli (bairut), Jilid 3, Hal 212.
[12]  Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Jalaluddin Al-Mahalli (bairut), Jilid 3, Hal 213.
[13]  I’anatuth Thalibin, Jilid 1, hal 113.
[14]  I’anatuth Thalibin, Jilid 1, hal 113.
[15]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 158.
[16]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 163.
[17]  Hasyiyah Tahrir (bairut), Jilid 1, hal 168.
[18]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 153.
[19]  I’anatuth Thalibin, Jilid 1, hal 113.
[20]  Hasyiyah Tahrir (bairut), Jilid 1, hal 168.
[21]  I’anatuth Thalibin, Jilid 1, hal 113.
[22]  Rawai’ul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Jilid 2, Hal 154.
[23]  Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarhi Jalaluddin Al-Mahalli (bairut), Jilid 1, Hal 201.

0 Response to "BATASAN-BATASAN AURAT"

")[0]); //]]>