Minggu, 26 Mei 2013

MAKALAH PENGERTIAN DINAMIS

MAKALAH PENGERTIAN DINAMIS


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kesadaran adalah langkah awal. Berikutnya kita harus berusaha untuk menyelaraskan diri dengan dinamika kehidupan. Kita harus bisa dinamis. Kita harus dapat menyerasikan ritme kita dengan kehidupan. Apabila kita mampu berjalan seiring dan mengimbangi perubahan hidup maka itulah yang disebut dengan hidup yang harmonis. Kita berjalan selaras dengan kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah

1) Apa pengertian dinamis ?
2) Apa ciri – ciri dinamis dan karakternya ?
3) Bagaimna sikap mahasiswa yang dinamis?
4) Apa hikmah dari kreatif dan dinamis ?


  
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Dinamis

Dinamisme merupakan kemampuan melihat sisi terang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun berada dalam kesulitan. Dinamisme adalh pendekatan yang positif terhadp kehidupan sehari-hari untuk mencapi kberhsilan yang berguna bagi kehidupan.

Dalam firman Allah:
 “Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian Aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah Aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".(Q.S. yusuf : 67)

Dinamis berasal dari kata dynamic artinya : bergerak. Dalam istilah Al-quran dinamis itu identik dengan AL-INSAN yang artinya manusia yang diambil dari kataunasun artinya jinak dan harmonis atau dari kata nasiya artinya lupa, atau daeri katana’sun artinya pergerakan atau dinamis.

Makna tersebut paling tidak memberikan gambaran sepintas bahwa manusia mempunyai potensi untuk lupa , hidup harmonis, dan kemampuan untuk bergerak yang melahirkan dinamisme. Secara istilah dinamis adalah : sifat yang hidup penuh semangat, terus bergerak, untuk menghasilkan perubahan yang membawa kemajuan. Manusia yang dinamis akan selalu aktif melihat perkembangan zaman, gejala apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Sehingga menjadikan ia mampu beradaptasi, berkomunikasi, berintegrasi, dan bersosilisasi dengan apa dan siapa saja yang berada di lingkungannya.

Manusia merupakan makhluk sosialis – dinamis yang hidupnya selalu di hadapkan dengan perubahan – perubahan, baik perubahan alam maupun perubahan masyarakat, tidak ada satupun di ala mini yang mengalami stagnasi (kemandekan), semua diciptakan Allah sesuai dengan sunnah-Nya yaitu perubahan, yang tidak berubah hanyalah dzat Allah, untuk menyikapi perubahan itu manusia harus bersikap kreatif dan dinamis, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-ankabut ayat 69 :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Allah menjadikan kehidupan manusia dalam keadaaan susah payah. Oleh karena itu manusia harus tetap mensikapinya dengan sikap dinamis dan kreatif dalam menghadapi kehidupan dan ciri dari orang yang kreatif – dinamis itu ia akan senang menghadapi masalah yang rumit – rumit atau sulit lalu dihadapinya dengan lapang dada. Keseriusan dan ketekunan dengan demikian mendorong mereka lebih maju.

Sebaliknya orang yang bodoh biasanya enggan sekali menghadapi problematika yang sulit yang di carinya adalah yang mudah – mudah saja sehingga menjadikan mereka pasif dan statis. Allah berfirman dalam QS. Al-insyirah

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”

Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) Telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu Telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila Telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

2.2 Ciri-ciri sikap dinamis

1. Wajar dan realistis
2. Yakin pengorbanan dan Amal shaleh

Beberapa sifat yang dimiliki orang yang dinamis adalah :

· Bersungguh-sungguh, sehingga cepat dalam berpikir dan bertindak
· Tidak mau berdiam terlalu lama di suatu persoalan
· Cepat beradaptasi terhadap suatu kondisi dan perubahan
· Membuang hal-hal dan beban yang tidak perlu
· Sehingga tetap tenang dan bahagia meski banyak persoalan yang dihadapi

Ada beberapa karakter manusia dinamis yang mungkin bisa di pelihara dalam diri kita :

1. Selalu berusaha igin tahu

Seseorang yang dinamis selalu ingin megetahui letak sebuah persoalanmengapa demikian? Ia berusaha ingin tahu seluk beluk segala macam apa saja. Meski ia ahli di satu bidang tertentu. Ia menghimpun berbagai fakta seperti juga orang-orang menghimpun perangko atau kalori di tubuhnya. Ia tidak merasa dirinya berkecukupan soal pengetahuan. Ia ingin belajar tentang segala bidang yang baru. Meski ia memiliki minat besar pada bidang tertentu. Ia sangat senang mempelajari suatu keterampilan baru. Bertemu, berkenalan dengan orang-orang baru. Setidaknya ia ingin melakukan semua hal meski hanya sekali.

Namun ia akan BERHENTI pada saat ia merasa bahwa gerakannya itu sudah terlampau jauh menjangkau hidaupnya. Apalagi saat semuanya terlalu mengikat perhatian dan geraknya. Ia akan berhenti sebentar untuk menengok matahari terbenam di pinggir pantai, melihat gumpalan awan yang indah sambil terbaring di padang rumput luas atau membaca sebuah novel klasik di pinggir danau sambil menikmati secangkir coklat panas. Seorang yang dinamis kadang menemui seorang teman lama yang jarang ditemuinya unntuk bersilaturahmi.

Namun semuanya ini hanya sekedar untuk mengisi tenaga baterai dinamisnya saja. Ia menolak sama sekali untuk mandeg. Seorang yang dinamis, dalam karakternya yang selalu ingin tahu, MENDENGAR perkataan orang-orang yang lebih pintar, bijaksana, dan lebih tua pengalamannya dari dirinya sendiri. Sehingga ia bisa menarik pelajaran dari mereka. Ia juga mendengar ucapan orang yang suka berkhayal, pedagang ulung, orang uang pemarah, orang yang merasa kesepian dan sebagainya. Ia mendengarkan ucapan kerabat-kerabatnya, sahabat, dan orang-orang disekitarnya. Sebab seperti filosofi, Mereka juga punya kisah sendiri yang dikemukakan.

2. Bersikap Independen

Seseorang yang dinamis bersifat independen. Namun bukanlah seorang yang bertindak ngawur atau tidak masuk akal. Ia menghormati buah pikiran orang lain. Tetapi ia menjalankan tugasnya tanpa bergantung dengan orang lain. Ia menyadari jika ia terlampau menggantungkan nasibnya pada orang lain, maka hanya sedikit yang bisa ia capai dalam hidup ini.

3. Memiliki Daya Cipta Yang Kuat

Seseorang yang dinamis biasanya terangsang apabila berhadapan dengan sesuatu yang baru. Ia sangat antusias terhadap segala sesuatu yang baru dan ingin ia dekati . Ia tidak mau menolak sebuah gagasan begitu saja. Ia bersedia merasakan, memikirkan dan menjalani gagasan itu jika dirasakan tepat dan berguna. Dalam hal-hal yang penting seringkali, ia menelurkan ide-ide yang luar biasa dan sesuai kebutuhan orang banyak. Bahkan ia bisa mananggulangi berbagai permasalahan yang mengintarinya dengan pembiayaan hemat dan metode yang praktis.

4. Mendahulukan Yang Lebih Penting

Seseorang yang dinamis menyadari bahwa ia tidak bisa menjalankan seluruh pekerjaan secara serentak bersama-sama. Oleh sebab itu ia menyusun rencana bagi dirinya sendiri dengan memberikan prioritas pada hal-hal yang lebih urgen dan penting terlebih dahulu. Ia tidak boleh dikalahkan oleh waktu. Akan tetapi waktu itu justru harus ia taklukkan demi kepentingan pekerjaannya. Mungkin ini sebabnya, manusia dinamis sangat menghargai waktu dan bisa memanfaatkan waktu.

5. Dedikasi Yang Besar

Seseorang yang dinamis menyukai dan menekuni pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Ia menyenangi seluruh bidang kehidupannya. Ia menyukai lingkungan tempatnya berada. Ia selalu bersungguh-sungguh menggunakan sejumlah besar waktu, tenaga dan sumber perlengkapan lain untuk memberikan yang terbaik pada tugasnya. Seorang yang dinamis selalu berusaha menjadi yang terbaik di bidangnya.


6. Tahan Uji

Seseorang yang dinamis tidak akan menyerah sebelum kemampuannya berakhir. Ia akan terus berupaya dan berusaha sekuat tenaga mencapai cita-citanya. Meski ia harus berhadapan dengan tembok besar tantangan dan hambatan. Ia mampu merobohkan tembok besar itu. Dalam perjalanannya pasti ia akan menemui cemoohan orang-orang yang iri kepadanya. Tetapi ia menanggapi dengan tenang dan tidak putus asa.

2.3 Mahasiswa yang Dinamis

Seseorang yang memiliki semangat tinggi, penuh energi, selalu bergairah untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dan memiliki kekuatan jiwa dan kemauan untuk menghadapi tantangan kesulitan yang dihadapi disebut sebagai pribadi yang dinamis. Pribadi dinamis adalah pribadi yang aktif yang selalu memiliki rasa optimisme yang tinggi di dalam mencapai apa yang dicita-citakan.

Begitu juga seorang mahasiswa yang dinamis tidak pernah merasa lelah untuk berbuat, baik perbuatan itu memiliki manfaat pada dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Karena mereka tahu bahwa suatu perbuatan yang berdampak positif pada orang lain pada dasarnya juga bermanfaat buat diri sendiri (QS Al Isra’ 17:7).

 “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”

Setidaknya empat kriteria berikut dapat dibuat sebagai standar apakah seorang mahasiswa termasuk mahasiswa yang bertipe dinamis atau loyo:

Pertama, berakhlak mulia (QS Al Ahzab 33:21)

 “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Kemudian dalam surat Al Qalam 68:4)

 “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Memiliki energi dan ketangkasan tinggi bukan berarti tidak berakhlak. Jujur dan berani tapi hormat terhadap yang tua, menyayangi yang muda, santun dalam berkata-kata dan berperilaku, serta memakai etika agama dan sosial sebagai standar dalam melangkah merupakan ciri-ciri umum dari akhlak yang mulia. Ini mungkin yang membedakan antara mahasiswa dinamis dengan pribadi dinamis yang non- mahasiswa.

Kedua, inovatif. Seorang mahasiswa dinamis selalu ingin melakukan inovasi. Kebaikan itu banyak ragamnya. Dan jalan menuju kebaikan tersebut lebih banyak lagi ragamnya. Oleh karena itu, ia selalu ingin mencoba mencari jalan baru (inovasi) yang mungkin lebih efektif dan lebih efisien menuju suatu tujuan bersama. Mencoba cara baru tidak otomatis akan berhasil, namun demikian dalam kemauan dan keberanian untuk mencoba itu sendiri sudah merupakan suatu keberhasilan.

Ketiga, inisiatif. Inilah salah satu ciri khas seorang mahasiswa dinamis yang berjiwa pemimpin. Seorang mahasiswa tidak akan bisa menjadi calon pemimpin yang baik apabila setiap tindak-tanduknya selalu menunggu komando. Ibarat anak ayam yang selalu menunggu suapan dari induknya. Keberanian untuk mengambil inisiatif diperlukan terutama ketika ia dipercaya untuk memegang suatu amanah kepemimpinan. Keberhasilan suatu organisasi, baik besar maupun kecil, sangat tergantung antara lain pada seberapa besar inisiatif dari setiap pimpinannya baik pimpinan level atas maupun yang level bawah sesuai dengan kekuasaan dan otoritas yang diberikan padanya.

Keempat, ikhlas. Walaupun sikap ikhlas sudah masuk pada kategori akhak mulia (poin pertama), namun perlu ada penekanan di sini mengingat sangat pentingnya hal ini dimiliki oleh setiap individu santri yang dinamis terutama di saat-saat di mana keikhlasan sangat diperlukan. Di samping karena perintah Allah (QS Al A’raf 7:29 ) juga sebagai cara untuk memotivasi diri. Sebagai contoh, saat apa yang dilakukannya tidak mendapat apresiasi yang layak baik secara moril maupun materil.

`Empat kriteria di atas apabila dimiliki oleh seorang santri akan menjadikanmahasiswa yang bersangkutan sebagai figur yang tidak hanya dikagumi dan diteladani karena akhlaknya yang mulia, tapi juga sebagai figur yang akan membuat langkah-langkah yang memiliki manfaat besar besar bagi lingkungan sekitarnya. Inisiatif dan langkah inovatifnya akan menjadi terobosan baru untuk mencapai kemaslahatan dan kesejahteraan umat yang lebih luas.


2. 4 Hikmah dinamis

1. Menjadikan kehidupan stabil
2. Meningkatkan kesejahteraan hidup individu dan social
3. Menjunjung nilai – nilai kemanusiaan
4. Menghindari diri dan masyarakat dari sifat stagnan atau statis
5. Terlaksannya nilai- nilai agama islam
6. Mempercepat proses menuju kemajuan individu dan mayarakat



BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Dinamis berasal dari kata dynamic artinya : bergerak. Dalam istilah Al-quran dinamis itu identik dengan AL-INSAN yang artinya manusia yang diambil dari kataunasun artinya jinak dan harmonis atau dari kata nasiya 
artinya lupa,atau daeri kata na’sun artinya pergerakan atau dinamis.

Beberapa sifat yang dimiliki orang yang dinamis adalah :
- Bersungguh-sungguh, sehingga cepat dalam berpikir dan bertindak
- Tidak mau berdiam terlalu lama di suatu persoalan
- Cepat beradaptasi terhadap suatu kondisi dan perubahan

Seorang mahasiswa yang dinamis tidak pernah merasa lelah untuk berbuat, baik perbuatan itu memiliki manfaat pada dirinya sendiri maupun untuk orang lain.Karena mereka tahu bahwa suatu perbuatan yang berdampak positif pada orang lain pada dasarnya juga bermanfaat buat diri sendiri

Hikmah dinamis
- Menjadikan kehidupan stabil
- Meningkatkan kesejahteraan hidup individu dan social
- Menjunjung nilai – nilai kemanusiaan

3.2 kritik dan Saran

Perubahan dapat membawa persoalan dan kesenangan. Perubahan akan selalu mengiringi hidup. Perubahan tidak dapat dihindari. Perubahan akan selalu datang dan pergi. Ternyata bahwa hidup itu penuh perubahan. Tidak ada yang tetap. Hidup itu berubah. Hidup itu dinamis. Inilah hal yang harus kita sadari. Hal yang harus kita camkan betul-betul di dalam kesadaran kita yang paling dalam, bahwa hidup itu adalah dinamis.

Makalah ini sungguh kurang dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan penulisan makalah yang selanjutnya agar lebih baik. Dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penuis dan pembaca.amin








DINAMIS
DI
S
U
S
U
N

OLEH :
NAMA  :  NORMAN TIBA
KELAS : X . 2
PENGASUH  :  ABDURRAHMAN  S. Ag




MAN BEUREUNUEN

2013

Kisah Kehidupan Rasulullah SAW

Pendahuluan


Nama Nabi Muhammad SAW adalah nama yang sangat akrab bagi setiap muslim dimana pun mereka berada, setiap adzan dan sholat nama beliau pasti selalu disebut. Kisah sejarah beliau selalu diceritakan baik dalam pelajaran agama Islam atau pun dibacakan oleh orang-orang tua kita, dalam kajian siraman-siraman ruhani Siroh Nabawiyah menjadi wacana yang sering dikaji.

Beragam jenis media dipergunakan untuk memperluas informasi tentang Rasul SAW yang mulia ini. Mulai dari buku Siroh Nabawiyah untuk umum hingga khusus untuk anak-anak. Bahkan kini ada dalam bentuk film. Semua itu ditujukan agar setiap muslim memiliki pengetahuan yang lengkap tentang nabinya dan memupuk kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW sehingga menjadikannya panutan teladan.

Namun sungguh disayangkan, belakangan ini siroh nabawiyah seringkali hanya menjadi bagian dari kisah-kisah nabi yang harus diketahui oleh seorang muslim. Untuk menjadikan beliau model perilaku seorang muslim sering terlewatkan. Beliau dianggap sebagai figur yang terlalu sempurna untuk dicontoh, bahkan terlalu jauh untuk diterapkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini memperlihatkan adanya jarak yang seolah-olah tak mungkin diterapkan oleh umatnya. Nabi Muhammad SAW menjadi sosok yang demikian agung hingga menafikkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tokoh nyata yang pernah hidup dan merupakan manusia biasa seperti umatnya.

Sebagai penutup dari para nabi, Nabi Muhammad SAW adalah salah seorang hamba dari hamba-hamba Allah SWT yang lain. Oleh karena beliau seorang hamba, maka Rasulullah SAW memiliki ciri yang sama dengan manusia yang lain. Rasulullah SAW lahir dan wafat, makan dan minum, mengalami sehat dan sakit, bekerja dan berda’wah bahkan juga tidur untuk melepas lelahnya sama seperti manusia lainnya.

Sebagai seorang nabi dan rasul, Muhammad SAW memiliki tugas menyampaikan risalah, menjalankan amanah dari Allah dan menjadi pemimpin umat. Perjalanan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dalam menyampaikan da’wah dapat dilihat dari da’wah-da’wah beliau dalam fiqh da’wah, sedangkan fiqh ahkam (hukum) bersumber dari perilaku beliau.  


Latar Belakang

A. Kisah Kehidupan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya
.
Kebiasaan Nabi

Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya
.
        
Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi

          Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.


          Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja
.
          Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Majlis Nabi

          Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

          Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

         Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan



menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi

         Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

B. Kisah Kehidupan Sahabat Rasulullah

1. Abu Bakar As-Siddiq

       Abu Bakar As Siddiq adalah seorang Tokoh Islam yang menjadi pengikut sahabat Rasullullah Saw. Dia adalah salah satu orang yang termasuk awal untuk mengikuti agama Islam. Abu bakar diangkat menjadi kholifah setelah Nabi Muhammad SAW wafat dan beliau diangkat dan dibai`at oleh seluruh kaum muslimin saat itu.

Dalam Kehidupan sehari-hari beliau berprofesi sebagai hakim, seorang yang pandai dan bisa menafsirkan mimpi, beliau juga menjadi pedagang. Abu Bakar berarti “ayah si gadis”, yaitu ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW.
Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’). Sumber lain menyebutkan namanya adalah Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Quhafah adalah kunya atau nama panggilan ayahnya). Gelar Ash-Shiddiq (yang dipercaya) diberikan Nabi Muhammad SAW sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq.

         Beliau seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia.
Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menonjol di tengah-tengah orang lain.

Pada tahun 12 H, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit mengumpulkan Al-Qur’an dari semua tempat semisal yang ditulis di kulit, dedaunan, maupun dari hafalan yang tersimpan dalam dada kaum muslimin terutama para shohabat.
Beliau melakukan hal itu setelah para Qori’ penghafal Al-Qur’an banyak yang meninggal di dalam Perang Yamamah. Beliau adalah seorang yang teguh memegang wasiat nabi, di antaranya beliau tetap memerintahkan pasukan Usamah bin Zaid bin Haritsah untuk tetap berangkat bertempur ke Romawi walau mayoritas shohabat berpendapat untuk membatalkannya demi keamanan Madinah yang sedang dikepung oleh aksi pemurtadan para kabilah Arab setelah Rosululloh wafat.

Abu Bakar wafat pada hari Senin di malam hari. Ada pula yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah maghrib (malam Selasa) dan dikuburkan pada malam itu juga, yaitu tepatnya delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir 13 Hijriyah.
Beliau wafat pada umur 63 tahun. Sebelum meninggal, Abu Bakar sakit selama lima belas hari. Sewaktu beliau sakit, Abu Bakar mewasiatkan agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin Khathab. Abu Bakar memimpin sebagai khalifah selama dua tahun tiga bulan.

2. Umar bin Khattab

Nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, dilahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan bathil. Ia merupakan salah satu dari Khulafaur Rasyidin yakni empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat.

          Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal, karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah. Sebelum memeluk Islam, sebagaimana tradisi kaum jahiliyah mekkah saat itu, Umar mengubur putrinya hidup-hidup. Sebagaimana yang ia katakan sendiri, "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

          Mabuk-mabukan juga merupakan hal yang umum dikalangan kaum Quraish. Beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali. Tetapi, setelah masuk Islam, belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas. Sehingga ada kisah, Pada malam hari, Umar bermabuk-mabukkan sampai Subuh. Ketika waktu Subuh tiba, beliau pergi ke masjid dan ditunjuk sebagai imam. Ketika membaca surat Al-Kafirun, karena ayat 3 dan 5 bunyinya sama, setelah membaca ayat ke 5, beliau ulang lagi ke ayat 4 terus menerus. Akhirnya, Allah menurunkan larangan bermabuk-mabukkan yang tegas.

Memeluk Islam

           Ketika ajakan memeluk Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad SAW, Umar mengambil posisi untuk membela agama tradisional kaum Quraish (menyembah berhala). Pada saat itu Umar adalah salah seorang yang sangat keras dalam melawan pesan Islam dan sering melakukan penyiksaan terhadap pemeluknya.

Dikatakan bahwa pada suatu saat, Umar berketetapan untuk membunuh Muhammad SAW. Saat mencarinya, ia berpapasan dengan seorang muslim (Nu'aim bin Abdullah) yang kemudian memberi tahu bahwa saudara perempuannya juga telah memeluk Islam. Umar terkejut atas pemberitahuan itu dan pulang ke rumahnya.

Di rumah Umar menjumpai bahwa saudaranya sedang membaca ayat-ayat Al Qur'an (surat Thoha), ia menjadi marah akan hal tersebut dan memukul saudaranya. Ketika melihat saudaranya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat. Ia kemudian menjadi sangat terguncang oleh isi Al Qur'an tersebut dan kemudian langsung memeluk Islam pada hari itu juga.


Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

3. Usman bin Affan

Saiyidina Uthman Bin Affan R.A. adalah Khalifah Islam yang ketiga sesudah Saiyidina Umar Al Khattab R.A. Beliau telah memerintah Kerajaan Islam hampir sebelas tahun lamanya dan tahun Masihi 644 hingga 655 Masihi. Beliau memperoleh gelaran "Zun Nurain yang ertinya yang memiliki dua cahaya. Sebabnya ialah kerana Rasulullah s.a.w. telah mengahwinkannya dengan dua orang puterinya iaitu yang pertama kali dengan Rugayyah dan sesudah wafatnya semasa Perang Badar, maka Rasulullah s.a.w. telah mengahwinkannya pula dengan Kalthum. Demikian besarnya kecintaan dan penghormatan Rasulullah s.a.w. terhadap Saiyidina Uthman R.A. Tatkala isterinya yang kedua itu pula meninggal, Rasulullah s.a.w. telah berkata kepadanya, "Jika ada anak perempuanku lagi hai Uthman, tentu engkau ku ambil sebagai menantu.

Sahabat besar ini termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam. Beliau datangnya dan suku atau puak Quraisy yang paling keras sekali tentangannya terhadap agama Islam dan Rasulullah s.a.w., iaitu puak Umaiyah. Menurut catatan sejarah, Saiyidina Uthman Bin Affan termasuk orang kelima diajak oleh Saiyidina Abu Bakar Al Siddiq untuk memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, Uthman R.A. termasuk orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah s.a.w. kerana kemuliaan dan kehalusan budipekertinya. Memang sesungguhnya Saiyidma Uthman Bin Affan R.A. terkenal sebagai seorang sahabat yang sangat tinggi budiperkertinya, sangat penyantun, lemah lembut lagi pemalu. Sebagai memperlihatkan kecintaan dan penghargaan Rasulullah s.a.w. kepadanya itulah maka beliau telah menjadi pilihan baginda untuk dikahwinkan dengan puteri-puterinya seorang demi seorang selepas meninggal seorang lepas satunya.

4.Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib RA, sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW, adalah kesatria sejati. Khalifah keempat dalam Islam ini merupakan model para sufi yang ingin menempuh jalan futuwwah (kekesatriaan). Kata futuwwah berasal dari fata, yang arti dasarnya adalah “pemuda” (syabb). Fata mencakup konotasi heroik (bersifat kepahlawanan) yang menjadi tak terpisahkan dari istilah futuwwah. Fata yang ideal, yang tercermin pada pribadi Ali, ditandai dengan sifat-sifat tidak egois, berani, dermawan, dan hormat.

Kisah di bawah ini menunjukkan dengan gamblang apa makna futuwwah itu dalam kehidupan dunia sufi. Imam Ali RA, khalifah terakhir dari al-khulafa’ar-rasyidin, sang Singa Allah, lambang ilmu pengetahuan, kedermawanan, dan kesetiaan, dikenal sebagai prajurit yang tak terkalahkan pada masanya.

Pada suatu peperangan, beliau telah menangkap seorang tentara dan pisau belati telah diletakkan di leher musuhnya. Tiba-tiba orang kafir musuhnya tersebut meludahi wajahnya. Seketika itu juga Ali berdiri, menarik belatinya, dan berkata kepada orang tersebut, “Membunuhmu adalah kurang bijaksana bagiku. Pergilah!”

Orang itu, yang telah menyelamatkan nyawanya sendiri dengan meludahi wajah Singa Allah yang terpuji itu, terkejut dan merasa kagum. “Wahai Ali,” dia berkata, “aku sudah tak berdaya, dan kau hampir saja membunuhku. Aku telah menghinamu dan sekarang engkau bebaskan aku. Mengapa?”


Penutup

Dengan mengenali sifat-sifatnya, kita diharapkan dapat menyadari siapa sebenarnya Rasulullah SAW kemudian berusaha mengikuti sifat dan perilaku yang dicontohkan beliau dan para sahabat  sahabatnya.

Rasulullah merupakan contoh nyata bagi umat Islam bila ingin berakhlaq mulia. Beliau adalah orang paling aktif memenuhi janjinya, paling dapat dipegang seluruh ucapannya, penyambung tali silaturahim, paling penyayang dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, sabar menghadapi kekasaran orang lain, bijaksana dalam menghadapi kekasaran orang lain.

Selaku umat Islam, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti, mencontoh dan menteladani semua perilaku terpuji rasulullah yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Akhlakul karimah tersebut dapat kita temui dalam berbagai literatur baik berupa sirah nabawiyah, riwayat-riwayat sahabat beliau, maupun firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.